Universitas Airlangga Official Website

MPEDT Versi Indonesia: Instrumen Baru dalam Deteksi Ejakulasi Dini

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ejakulasi dini adalah salah satu disfungsi seksual yang umum dijumpai pada pria. Gangguan ini  menyebabkan stres nyata, konflik hubungan, dan ketidakpuasan dengan kehidupan seksual. Hal ini disebabkan karena hubungan seksual selalu diidentikkan dengan durasi, tapi akan menjadi masalah jika durasi tidak sesuai yang diharapkan oleh pasangan. Data epidemiologi global menunjukkan prevalensi sekitar 22,7% di antara pria.

Dalam proses diagnosis, klinisi sering sekali menghadapi tantangan, dikarenakan laporan yang bersifat subjektif dan kadang sulit dibuktikan di meja praktek. Saat ini instrumen standar yang tersedia adalah Premature Ejaculation Diagnostic Tool (PEDT). Dengan menggunakan instrumen ini, banyak pakar melaporkan angka yang terlapor jauh lebih rendah dari pada kenyataanya. Hal  ini kemungkinan besar disebabkan karena hambatan budaya terutama seperti di Indonesia. Di Indonesia, stigma masih banyak berputar terkait pembahasan disfungsi seksual.

Disfungsi seksual masih sarat dengan norma agama yang melarang pengungkapan perilaku seksual, dan keengganan untuk membahas masalah seksual dengan penyedia layanan kesehatan. Hal ini  secara signifikan membatasi perilaku pelaporan diri dan pencarian perawatan. Faktor-faktor ini semakin membenarkan kebutuhan klinis akan alat diagnostik yang disesuaikan secara budaya seperti Alat Diagnostik Ejakulasi Dini Masturbasi (MPEDT) untuk mendapatkan data yang lebih akurat.

Di sisi lain mendiagnosis ejakulasi dini secara objektif masih menjadi tantangan karena secara tradisional hanya didefinisikan melalui kriteria diagnostik berdasarkan aktivitas penetrasi vagina. Masalahnya, aktivitas seksual pria sangat beragam, mulai dari hubungan seksual penis-vagina hingga praktik soliter seperti masturbasi. Masturbasi adalah praktek yang  umum terjadi di populasi, terutama di kalangan pria muda yang sering melaporkan ejakulasi dini.

Hal ini menghadirkan tantangan khusus dalam mendiagnosis ejakulasi dini pada pria yang tidak melakukan hubungan seksual vagina-penis dan hanya mengandalkan aktivitas seksual soliter, seperti masturbasi. Para klinisi membutuhkan intsrumen praktis yang dapat digunakan di meja praktek dalam mendeteksi gangguan ini dan jika perlu pada akhirnya memberikan terapi yang relevan.

Oleh karena itu, kami menerjemahkan dan memvalidasi secara psikometrik versi Indonesia dari Masturbatory Premature Ejaculation Diagnostic Tool (MPEDT) ke dalam Bahasa Indonesia untuk memfasilitasi dan memperluas penerapan penilaian seksual dalam perawatan kesehatan seksual. Tentunya hal ini memungkinkan pengelolaan ejakulasi dini yang lebih komprehensif.

Hasil uji adaptasi dan validasi yang kami lakukab menunjukkan bahwa versi bahasa Indonesia memiliki validitas konstruk yang baik, konsistensi internal (Cronbach’s α = 0,88), dan stabilitas temporal serta reliabilitas yang baik (koefisien korelasi intrakelas = 0,76), yang mendukung potensi penggunaannya sebagai instrumen skrining untuk gejala ejakulasi terkait masturbasi dalam pengaturan klinis dan penelitian. Lebih lanjut, berdasarkan analisis kami, skor ambang batas MPEDT ≥ 9 dapat membantu mengidentifikasi individu yang mungkin mendapat manfaat dari evaluasi klinis lebih lanjut. Tentunya hasil adaptasi ini menjadi berita baik dalam praktek seksologi klinis sehingga penanganan ejakulasi dini dapat dilakukan tepat guna.

Penulis: Cennikon Pakpahan

Detail Artikel: Lionardi, S., Handini, L.P., Utomo, N.S. et al. Adapting and Validating the Indonesian Version of the Masturbatory Premature Ejaculation Diagnostic Tool: A Questionnaire for Masturbation-Related Ejaculatory Symptoms. Arch Sex Behav 55, 1869–1876 (2026). https://doi.org/10.1007/s10508-026-03587-y