Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini sering kali dianggap sebagai “penyakit anak-anak”. Namun, tahukah Anda bahwa saat ini terjadi pergeseran tren yang cukup signifikan secara global?
Lalu, siapa yang sebenarnya paling sering terserang DBD? Secara umum, anak-anak di bawah usia 15 tahun memang masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi berat karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sempurna. Namun, literatur medis modern menunjukkan bahwa kasus demam berdarah kini semakin banyak menyerang kelompok usia dewasa. Orang dewasa yang memiliki mobilitas tinggi sering kali terpapar nyamuk ini di tempat kerja atau fasilitas umum.
Apa yang Paling Membedakan Gejala pada Anak dan Dewasa?
Secara literatur, gejala demam berdarah pada anak dan dewasa memiliki perbedaan. Pada anak-anak, demam sering kali muncul sangat mendadak disertai suhu yang sangat tinggi, rewel, dan risiko mengalami syok (penurunan tekanan darah drastis) lebih besar jika telat ditangani. Sebaliknya, pada orang dewasa, gejalanya kerap ditandai dengan nyeri sendi dan otot yang luar biasa hebat (dikenal dengan breakbone fever), sakit kepala, serta rasa lelah yang berkepanjangan.
Namun, bagaimana kondisi ini jika dilihat dari data medis di lapangan?
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Surabaya pada tahun 2022 menelaah hal ini lebih dalam. Studi ini mengumpulkan data medis dari 162 pasien demam berdarah, mulai dari usia balita (0-5 tahun) hingga dewasa (30-59 tahun). Mereka membandingkan pasien dengan Demam Dengue (DD) yang lebih ringan, dan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang lebih parah.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan beberapa fakta menarik yang sejalan dengan pergeseran tren demam berdarah saat ini:
Risiko Keparahan yang Serupa
Banyak yang mengira orang dewasa akan lebih kebal terhadap bentuk parah dari penyakit ini. Ternyata, studi ini menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pasien anak dan dewasa dalam hal klasifikasi penyakit (apakah mereka terkena DD atau DBD). Artinya, orang dewasa dan anak-anak memiliki risiko yang sama besarnya untuk jatuh ke dalam kondisi demam berdarah yang parah.
Perbedaan Paling Mencolok: Trombosit
Hal yang paling membedakan antara anak dan dewasa ketika terkena infeksi ini ada pada hasil laboratorium mereka, khususnya terkait keping darah atau trombosit. Penelitian ini menemukan perbedaan yang sangat nyata dalam kejadian trombositopenia (kondisi turunnya jumlah trombosit secara drastis) antara pasien anak dan dewasa.
Trombosit sebagai Kunci Keparahan
Data juga membuktikan bahwa jumlah trombosit memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat keparahan demam berdarah. Pasien yang divonis menderita DBD terbukti memiliki tingkat trombosit yang jauh lebih rendah dibandingkan pasien yang hanya menderita DD biasa. Penurunan trombosit inilah yang memicu terjadinya kebocoran pembuluh darah dan pendarahan, yang menjadi tanda bahaya utama dari penyakit ini.
Kesimpulan
Hasil penelitian di Surabaya ini menegaskan satu hal penting: demam berdarah tidak lagi memandang usia, dan baik anak-anak maupun orang dewasa sama-sama berisiko tinggi mengalami fase kritis. Karena adanya perbedaan respons laboratorium yang signifikan terutama dalam hal penurunan trombosit—pendekatan diagnosis yang spesifik sesuai usia sangatlah dibutuhkan. Bagi masyarakat, pesan dari temuan ini sangat jelas. Jangan pernah meremehkan demam tinggi yang tak kunjung turun dalam 2-3 hari, baik itu terjadi pada balita di rumah, maupun pada diri Anda sendiri. Deteksi dini melalui tes darah dan penanganan medis yang cepat adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dari ancaman demam berdarah.
Penulis: Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes
Detail artikel: https://www.jidc.org/index.php/journal/article/view/42430540





